Ketika suara kami tidak pernah terdengar
Ketika derita kami telah jadi deretan angka-angka
Kami tak mau menangis lagi
Hidup di depan akan kami isi dengan tangan sendiri
Sebab perempuan adalah ibu dari peradaban
Kami disini setegar Cut Nyak Dhien, setabah Cut Meutia, segagah Laksamana Malahayati
Kami sepandai R.A Kartini, secerdas Dewi Sartika
Maka kami tidak pernah menyerah.....
(ketika kami mendapati semua pintu telah tertutup... Omah Ijo, Januari 2007)
Search This Blog
Followers
Pages
Total Pageviews
Popular Posts
-
Kemiskinan adalah akibat dan hasil dari pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia. Dua batas inilah yang mungkin membuat kemiskinan men...
-
Globalisasi pada dasarnya memiliki sebuah arti yaitu proses "pembumian sesuatu". Dalam kaitannya dengan kebudayaan dunia, ia diasu...
-
Namanya Bagas, anak laki-laki yang berumur 12 tahun sudah hampir sebulan ini menjadi tetangga baik di kontrakan, tepatnya di pintu sebelah....
-
Lelaki di tepi malam apa kabar kau disana? Keberadaanmu menoreh luka Ketakutanmu mencipta lara Perjalananmu adalah sesal abadi Lelaki di amb...
-
Jiwaku retak puing-puingnya berserakan terhempas bersama angin hilang di gurun hati yang tandus Kebisuan hanya jawaban di pencarian yang fan...
-
Aku hitam Kamu putih Aku berarak kelabu atas khilafku kamu bersulam putih karena benarmu Aku hitam Kamu putih Aku...
-
Dia hanya bisa menangis hanya bisa meratap hanya ingin tersenyum meski dia tahu bahwa hatinya luka walau dia me...
-
Ombak pantai Nusa Dua memecah telinga kilau laut pun memantul indah bau pasir melekat erat membantuku untuk memahami riwayat syahdu lukisanm...
-
Adjani, kusebut namamu, Kau tidak pernah terwujud dlm nyata Kau tidak tampak dalam pandang mata Kaupun tak teringat manakala luka itu m...
