Powered By Blogger

Search This Blog

Followers

Pages

Total Pageviews

Popular Posts

Thursday, 5 May 2011

SI BAGAS

Namanya Bagas, anak laki-laki yang berumur 12 tahun sudah hampir sebulan ini menjadi tetangga baik di kontrakan, tepatnya di pintu sebelah. Dia anak laki-laki bungsu seorang perempuan yang akrab disapa dengan panggilan 'bude Sar'. Bagas masih mengenyam bangku sekolah Taman Kanak Kanak. Ya, sudah bisa diduga, kondisinya memang tidak seperti anak-anak seumurnya. Dengan berjalan agak pincang, dan postur tubuh yang tidak proporsional, ditambah dengan bicara yang tidak jelas, cukup menarik perhatianku dan suami dari awal kami pindah ke tempat itu.

Namun Tuhan tetap dengan sifatnya Yang Maha Adil, dengan segala kekurangannya, seorang Bagas selalu menyapa dengan ramahkami atau siapa saja yang ia kenal. Dua ekor kucing selalu dengans etia menunggu Bagas did epan pintu rumahnya melemparkan sepotong makanan, atau mungkin sekedar menunggu usapan sayang yang selalu diberikan Bagas setiap ia sedang dduduk di terasnya. Bagas selalu tampak ceria ketika sedang bermain dengan teman-temannya yang kebanyakan anak-anak normal. Ia tidak tampak kecil hati ataupun minder dengan kondisinya.

Ibunya pernah bercerita padaku, bahwa kondisi yang diderita Bagas, disebabkan karena ia sering kena sakit panas yang tinggi sewaktu bayi. Bahkan sampai kejang-kejang, istilah itu yang kita kenal dengan 'stip'. Berobat kesana kemari sudah dilakukan sejak dulu, hingga suatu saat, ketika sedang mendatangi seorang dukun untuk terapi pijatnya, bude Sar diberi tahu bahwa anaknya menderita atau terkena apa yang orang-orang dulu sebut dengan "sawan bangkai atau "sawan mayit". Maka badannya sering panas tinggi sampai kejang.

Tetapi lepas dari apapun, semua sudah terjadi. Toh Bagas tetap bisa menikmati dunianya, yaitu dunia anak-anak yang tanpa beban. Yang aku dengar dari bude Sar, setelah lulus Taman Kanak Kanak ini, Bagas mau melanjutkan ke Sekolah Luar Biasa (SLB). Aku mendukung sekali. Bagas memang terlihat punya semangat belajar yang tinggi meskipun kondisinya sebagai penyandang cacat mental.

Begitulah Bagas. Semoga Tuhan selalu memberi rahmat untuknya dan keluarga. Dari seorang Bagas pun, aku belajar untuk selalu mensyukuri kehidupan ini.


(terimakasih Bagas.... Gg.Nangka 5 Mei 2011)

No comments: