Adjani, kusebut namamu,
Kau tidak pernah terwujud dlm nyata
Kau tidak tampak dalam pandang mata
Kaupun tak teringat manakala luka itu menganga
Adjani,
Namun kau hadir bagai nafas Illahi yang akhirnya dapat kuresapi hingga nadi
Kau ada di setiap denyut batin yg menembus sunyi
Dan kau jelas hadir menggapai ikhlasku dalam perih
Adjani,
Sebuah nama yg tersemat saat perlahan kuhapus titik hitam
Segenap arti bagi kehidupan yg nyaris tak terukir sukma
Maafkanku karena kau tidak bersama matahari
Maafkanku saat kau tak melihat bintang
Maafkanku bila senyap dan gelap bersama kita di senja itu
Aku benar-benar tak mampu menatap cahaya
Aku nyaris tiada daya dan kehilangan jiwa
Adjani,
Namun kini,
Dalam hening kulangitkan mantra hati
Mensyukuri kau telah menggenapi mimpi
Dalam perih kuteladani senyum syurga mungilmu
Bahwa kau adalah peri cantik yg selalu membisikkan,
sejuta makna tentang maaf,
beribu arti akan kebesaran jiwa
Adjani,
Terimakasih atas ikhlasmu tentang luka kita
Terimakasih untuk senyuman yg bahkan aku sendiri tak mampu menghadirkannya untukmu kala itu
Namun percayalah,
Kini namamu bersemayam dalam setiap mantra jiwa, sebagai tanda cintaku kepada Nya atas luka yg pernah ada di senja kita.
Kau nyata dalam keabadian,
Adjani.
-Omah Ijo, Desember 2019-
Kau tidak pernah terwujud dlm nyata
Kau tidak tampak dalam pandang mata
Kaupun tak teringat manakala luka itu menganga
Adjani,
Namun kau hadir bagai nafas Illahi yang akhirnya dapat kuresapi hingga nadi
Kau ada di setiap denyut batin yg menembus sunyi
Dan kau jelas hadir menggapai ikhlasku dalam perih
Adjani,
Sebuah nama yg tersemat saat perlahan kuhapus titik hitam
Segenap arti bagi kehidupan yg nyaris tak terukir sukma
Maafkanku karena kau tidak bersama matahari
Maafkanku saat kau tak melihat bintang
Maafkanku bila senyap dan gelap bersama kita di senja itu
Aku benar-benar tak mampu menatap cahaya
Aku nyaris tiada daya dan kehilangan jiwa
Adjani,
Namun kini,
Dalam hening kulangitkan mantra hati
Mensyukuri kau telah menggenapi mimpi
Dalam perih kuteladani senyum syurga mungilmu
Bahwa kau adalah peri cantik yg selalu membisikkan,
sejuta makna tentang maaf,
beribu arti akan kebesaran jiwa
Adjani,
Terimakasih atas ikhlasmu tentang luka kita
Terimakasih untuk senyuman yg bahkan aku sendiri tak mampu menghadirkannya untukmu kala itu
Namun percayalah,
Kini namamu bersemayam dalam setiap mantra jiwa, sebagai tanda cintaku kepada Nya atas luka yg pernah ada di senja kita.
Kau nyata dalam keabadian,
Adjani.
-Omah Ijo, Desember 2019-


No comments:
Post a Comment