Ada Marlina dengan senyumnya yang khas dan selalu diberikan kepadaku, baik dia lagi sedih ataupun senang. Wulan, gadis manis yang selalu bergelayut manja di lenganku, ketika seorang dari anak-anak itu menggodanya. Lain dengan adiknya, Fenny tampak bersikap lebih galak, walau aku tahu bahwa dia juga sering manja ketika menginginkan sesuatu. Lalu ada Andri yang sering tertawa geli sambil memperlihatkan gigi kelincinya ketika melihat hal-hal yang lucu. Begitu juga dengan Dewal, anak itu sering melakukan hobi jahilnya bersama Rian, untuk mengganggu anak-anak yang lain. Walau demikian, tidak jarang pula mereka berkelahi memperebutkan sesuatu, uang, misalnya; sehingga salah satu ada yang menangis. Kris, tampak lebih tenang pembawaannya, selalu berusaha untuk tidak membuat konflik dengan yang lain. Sementara trio pengamen kakak beradik, Mindra, Firman dan Ani, selalu ceria membawakan lagu-lagu mereka di tengah teriknya matahari. Sayang, mereka jarang berkumpul denganku belakangan ini. Mereka lebih sering mengamen dari satu tempat ke tempat lain. Dan kamu Nursanti, berani sekali berkeliaran di bisingnya lalu lintas, dan bernyanyi di perempatan lampu merah, dengan suaramu yang dikalahkan oleh knalpot kendaraan. Begitu pula dengan Suwanto dan Sunaya, kakak beradik yang gemar bermain di derasnya hujan, sementara teman-temanmu yang lain menggigil kedinginan. Berita terakhir yang kudengar, ayah mereka meninggal dunia. Dan sampai saat ini aku belum berjumpa lagi dengan keduanya.
Lalu ada Eet dan Ai, yang masih saudara sekandung dengan Andri, sejak beberapa minggu lalu sudah pulang ke kampung bersama ibunya, karena sudah tidak punya tempat tinggal lagi di Depok. Hanya Andri dan bapaknya yang masih tinggal, itupun tidak jelas dimana. Kemudian ada Bondan, Tumbur dan Ferry yang selalu berbagi cerita denganku, walaupun kita tidak kerap bertemu di jembatan. Begitu juga dengan Ning, Rina, Darini, Nandi, Toto, Ujang, dan masih banyak lagi, yang tidak dapat kusebutkan satu persatu. Mereka hilir mudik di jembatan penyeberangan itu dengan sejuta harapan dan mimpi yang terkoyak.
Ya. Di jembatan itu. Sarana umum penyeberangan untuk pejalan kaki, yang terbuat dari besi dan baja berdiri kokoh antara Terminal Bis dan Plaza Depok. Di tempat itulah aku dan anak-anak bertemu. Disitu pula kami bercengkerama, belajar, bernyanyi, serta bercanda ria. Berbagai macam perasaan telah mereka hadirkan di diriku, yang secara tidak langsung mengajarkan bagaimana mengartikan hidup yang sesungguhnya. Aku tahu, bukan hidup seperti itu yang mereka inginkan. Bukan senyum macam itu yang ingin mereka hadirkan, ketika perut mulai bernyanyi diterjang lapar. Aku tidak tahu, apakah nanti suatu saat mereka akan mengerti atau tidak, mengapa semua itu harus dijalani, sementara orang tua bergantung hidup pada mereka. Aku masih ingat bagaimana senangnya Marlina, ketika dalam sehari berhasil mengumpulkan uang sebanyak Rp. 35.000,- (tiga puluh lima ribu rupiah), dan sesudahnya dia berharap bisa mendapatkan jumlah yang lebih banyak daripada itu. Lalu terbayang pula olehku, raut kusut wajah Andri yang putus asa, karena dalam sehari tidak mendapat uang sepeser pun untuk dibawa pulang. Saat sedang bersama mereka, hatiku sering berkata, "Bukan. Bukan disini tempat kalian semua." "Mengapa kalian masih mengakrabkan diri pada kenyataan yang sesungguhnya tidak ramah dengan kalian?", tanyaku dalam hati. Dan aku mendapati jawaban itu dibalik baju lusuh dan bau yang menyengat, serta kusutnya rambut merah, yang seakan berujar dengan lantang padaku, "Tiada pilihan bagi kami...!!!"
Hari demi hari, aku berusaha utnuk memahami sendiri jawaban-jawaban itu. lalu aku bertanya lagi, "Apakah benar semua ruang tidak memberikan pilihan bagi mereka ?" Sepertinya memang tidak. Mereka atau bahkan kita semua tidak pernah menyadari bahwa sejuta pilihan itu terkubur dalam puing runtuhan harapan, yang seharusnya bisa mereka temui di tengah gelak tawa dan riangnya canda. Mereka tampaknya tidak pernah mencari tahu, mengapa harapan-harapan itu runtuh, dan kenapa pilihan-pilihan itu harus terkubur di dalamnya ? Aku pun tidak tahu lagi, kepada siapa pertanyaan-pertanyaan tadi harus ditujukan. Sama seperti pilihan, selama ini kita semua pun terkubur bersama arus waktu yang menggila. Atau bahkan kita berjalan sambil melindas sisi-sisi kemanusiaan, padahal kita berada pada sisi-sisi tersebut.
Ya. Di jembatan itu. Sarana umum penyeberangan untuk pejalan kaki, yang terbuat dari besi dan baja berdiri kokoh antara Terminal Bis dan Plaza Depok. Di tempat itulah aku dan anak-anak bertemu. Disitu pula kami bercengkerama, belajar, bernyanyi, serta bercanda ria. Berbagai macam perasaan telah mereka hadirkan di diriku, yang secara tidak langsung mengajarkan bagaimana mengartikan hidup yang sesungguhnya. Aku tahu, bukan hidup seperti itu yang mereka inginkan. Bukan senyum macam itu yang ingin mereka hadirkan, ketika perut mulai bernyanyi diterjang lapar. Aku tidak tahu, apakah nanti suatu saat mereka akan mengerti atau tidak, mengapa semua itu harus dijalani, sementara orang tua bergantung hidup pada mereka. Aku masih ingat bagaimana senangnya Marlina, ketika dalam sehari berhasil mengumpulkan uang sebanyak Rp. 35.000,- (tiga puluh lima ribu rupiah), dan sesudahnya dia berharap bisa mendapatkan jumlah yang lebih banyak daripada itu. Lalu terbayang pula olehku, raut kusut wajah Andri yang putus asa, karena dalam sehari tidak mendapat uang sepeser pun untuk dibawa pulang. Saat sedang bersama mereka, hatiku sering berkata, "Bukan. Bukan disini tempat kalian semua." "Mengapa kalian masih mengakrabkan diri pada kenyataan yang sesungguhnya tidak ramah dengan kalian?", tanyaku dalam hati. Dan aku mendapati jawaban itu dibalik baju lusuh dan bau yang menyengat, serta kusutnya rambut merah, yang seakan berujar dengan lantang padaku, "Tiada pilihan bagi kami...!!!"
Hari demi hari, aku berusaha utnuk memahami sendiri jawaban-jawaban itu. lalu aku bertanya lagi, "Apakah benar semua ruang tidak memberikan pilihan bagi mereka ?" Sepertinya memang tidak. Mereka atau bahkan kita semua tidak pernah menyadari bahwa sejuta pilihan itu terkubur dalam puing runtuhan harapan, yang seharusnya bisa mereka temui di tengah gelak tawa dan riangnya canda. Mereka tampaknya tidak pernah mencari tahu, mengapa harapan-harapan itu runtuh, dan kenapa pilihan-pilihan itu harus terkubur di dalamnya ? Aku pun tidak tahu lagi, kepada siapa pertanyaan-pertanyaan tadi harus ditujukan. Sama seperti pilihan, selama ini kita semua pun terkubur bersama arus waktu yang menggila. Atau bahkan kita berjalan sambil melindas sisi-sisi kemanusiaan, padahal kita berada pada sisi-sisi tersebut.
Andri..., Rian..., Dewal..., Wulan..., Bondan..., Eet..., Mindra..., Fenny..., Marlina..., Nursanti..., Ning..., Ferry..., Rina..., dan semuanya.... tetap berikan senyum kalian kepadaku. Bagi semua amarah itu untukku. Begitu juga gelisah, tangis, canda, hingga tawa yang kalian punya,serta segala yang pernah tercipta di jembatan milik kita..., untuk kita cari bersama sejuta pilihan itu, serta harapan dan mimpi yang tersisa, atau tidak sama sekali.

No comments:
Post a Comment