Atas nama untuk kebaikan, seorang perempuan muda menyerahkan bayi mungilnya untuk diasuh oleh pasangan suami istri yang tinggal di kota lain, yang memang telah lama menantikan suara tangis bayi di tengah-tengah mereka. Air matanya hanya tertahan di pelupuk mata. Dia berjanji untuk tidak bersedih. Terhampar di benaknya, sang lelaki yang hampir setahun lalu dilayaninya dengan penuh cinta, yang memberikan sperma hingga rahimnya dihuni oleh janin, dan sembilan bulan kemudian menjadi bayi, lalu lahir ke dunia. Semua diingatnya dengan baik. Namun, sepertinya tidak dengan takdir. Takdir berkata bahwa dia tidak boleh terlalu lama menikmati semua itu. Semua yang ia sayangi sampai hari ini. Sesaat dia berharap, ini tidak pernah terjadi pada dirinya. Ini hanyalah akibat yang ditanggung olehnya, ketika sesuatu dianggap keluar dari apa yang sudah disepakati bersama dalam kehidupan perempuan itu dengan mahluk hidup lain, termasuk bapak, ibu, dan saudara-saudaranya yang tinggal di kampung halaman. Perempuan itu sudah terlanjur menyepakati segala perjanjian moral, tentang dogma, hukum adat, dan semua yang dianggap benar sebagai pedoman hidupnya sebagai manusia. Jadi, wahai umat manusia, bagi semua yang ingin disebut bermoral...ketahuilah...bahwa adalah salah ketika seorang bayi lahir karena benih cinta, dari rahim seorang perempuan yang dianggap melanggar segala perjanjian moral, tanpa boleh membela diri bahwa ia memang mencintai lelakinya, dan itu adalah aib pada saat seorang perempuan tidak dapat menyebutkan siapa yang menjadi bapak dari anaknya, tanpa semua mengetahui bahwa dirinya juga terluka jika semua itu terjadi dengan terpaksa, dan ini sesuatu yang tidak ber peri-kemanusiaan, ketika seorang perempuan harus merelakan buah hatinya kepada yang lain, karena keterbatasan yang ia miliki, tanpa pertimbangan bahwa betapa bersalah perasaannya ketika harus berpisah dengan sang buah hati.
Kini, perempuan itu berjalan di tepian sunyi tanpa akhir. Dia berusaha meyakini, bahwa segala yang terjadi adalah yang terbaik bagi dirinya, sang buah hati, dan juga lelakinya, dan pula untuk semua yang menyayanginya di kampung halaman. Si lelaki hanya menemani dalam bayangan, pun buah hatinya itu. Perempuan itu sudah kehilangan keberanian untuk mengakui bahwa dirinya memang terluka. Dia menafikkan bahwa semua yang berkaitan dengan moral itu telah menghilangkan separuh jiwanya. Dia tidak pernah bisa berkata dirinya amat sangat terluka, dirinya muak dengan semua orang yang bicara atas nama moral, tanpa mempedulikan juga sisi-sisi lain dari kemanusiaan.
Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tetap yakin bahwa Tuhan selalu mengasihi umat-Nya, tanpa terkecuali...
Kini, perempuan itu berjalan di tepian sunyi tanpa akhir. Dia berusaha meyakini, bahwa segala yang terjadi adalah yang terbaik bagi dirinya, sang buah hati, dan juga lelakinya, dan pula untuk semua yang menyayanginya di kampung halaman. Si lelaki hanya menemani dalam bayangan, pun buah hatinya itu. Perempuan itu sudah kehilangan keberanian untuk mengakui bahwa dirinya memang terluka. Dia menafikkan bahwa semua yang berkaitan dengan moral itu telah menghilangkan separuh jiwanya. Dia tidak pernah bisa berkata dirinya amat sangat terluka, dirinya muak dengan semua orang yang bicara atas nama moral, tanpa mempedulikan juga sisi-sisi lain dari kemanusiaan.
Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tetap yakin bahwa Tuhan selalu mengasihi umat-Nya, tanpa terkecuali...

No comments:
Post a Comment